Ini kisah tentang rumah, tempat yang mengizinkanmu gagal berkali-kali. Di sini kau boleh lelah, kau boleh mengeluh. Di sini pula kau boleh salah, kau boleh marah. Bila perjalananmu sudah terlalu jauh dan melelahkan, pulanglah. Ambil selimut, menangislah. Ambil segelas teh hangat, teguklah. Bila kau sudah cukup kuat, kau boleh berkelana lagi. Dan rumahmu akan selalu setia menunggumu kembali.
Ada jodoh yang ditemukan lewat tatapan pertama. Ada persahabatan yang diawali lewat sapa hangat. Bagaimana jika takdir bersama ternyata, diawali dengan pertarungan mematikan? Lantas semua cerita berkelindan dengan, pengejaran demi pengejaran mencari jawaban? Pulang - Pergi.
Jakarta, Maret 1998 Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah y…
Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima. Jangan biarkan hidup memaksamu tumbuh menjadi seseorang yang kau sendiri akan benci.
Hujan adalah janji setia langit kepada bumi. Tak perlu ditunggu, ia pasti datang. Kita terjebak pada hujan yang sama, tetapi tak bisa saling bicara. Membuatku terus menunggumu memutar badan dan melempar senyum kepadaku.
Naraya Atmadja mewarisi toko buku bekas dari orang yang paling ia benci: ayah kandungnya. Namun bangunan itu justru melemparnya ke tahun 1995-ketika orang tuanya masih muda, naif, dan baru saling jatuh cinta. Naraya yakin perjalanan waktu ini adalah kesempatannya untuk mengubah takdir agar hdiupnya dan Ibu tidak lagi berakhir dalam duka.
Kepada mereka yang percaya bercerita adalah bagian dari perawatan jiwa.
Novel Pulang adalah kisah dua generasi - Dimas Suryo dan putrinya, Lintang Utara, yang bersama-sama menetap di Paris, Perancis. Seperti ribuan warga Indonesia lain yang terjebak di berbagai negara dengan status stateless, keluarga Dimas Suryo tak pernah bisa pulang ke Indonesia karena paspor mereka dicabut dan kehidupan mereka terancam.
Kita hanya sepotong hati, bukan? Satu-satunya. Lantas bagaimana kalau hati itu terluka?. Disakiti justeru oleh orang yang kita cintai?. Aduh, apakah kita bisa mengobatinya? Apakah luka itu bisa pulih, tanpa bekas? Atau jangan-jangan, kita harus menggantinya dengan sepotong hati yang baru.
Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan Untuk kita, yang merasa tidak cantik tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan. Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku …